Jumat, 01 Maret 2019

Sabtu, 18 November 2017

TANPA JUDUL



Dari pagi sampai siang sang mentari gak berani menampakkan diri dengan gagah, bukan muram tapi bumi bernuansa teduh. Menjelang sore awan mendung siuman dan dari kejauhan mulai menampakkan diri, terus bergerak dan menyebar seakan tergesa-gesa ingin membasahi bumi. Yang tak kalah garang adalah angin, dia membawa awan mendung ke segala penjuru sampai bergulung-gulung dan bergelombang, hempasannya membuat pepohonan terjaga. Sore harinya langit gelap dipenuhi awan mendung, dan hujan pun turun sebagai anugerah meski menutup keindahan memerahnya langit di saat senja. Harmoni alam yang berkesan pada musim penghujan.

Selasa, 14 November 2017

Ia



Kenapa harus ada yg disalahkan karena mencairnya es abadi di kutub?
Apa tidak ada yg memahami kalau ia sepi dalam kebekuan?
Ia ingin mencair dan mengalir untuk menyapa bahtera yg memecah ombak. Ia-pun ingin menjadi awan yg bisa terbang dan gerimis yg romantis atau hujan yg membuat bumi tersenyum.

Senin, 13 November 2017

SEPI DI PENGHUJUNG WAKTUNYA



Malam ini terang, bulan begitu sempurna bersinar dan gemerlap bintang membuat malam serasa tidak sepi. Tidak seperti bulan, jumlah bintang begitu banyak dan mungkin tak terkira, sehingga bila ada diantaranya yang padam atau redup dan jatuh tidak ada rasa kehilangan yang menyertainya, luput dari perhatian. Bintang yang mempesona dengan sinarnya yang indah itu merasa sepi di penghujung waktunya.

RINDU YANG TERSIMPAN



Malam ini langit gelap tertutup mega, tidak ada bulan ataupun bintang. Tidak ada yang menanyakan tentang terangnya sinar bulan atau gemerlapnya bintang, selain hanya dalam bentuk rasa rindu yang tersimpan. Saat ini merupakan giliran mega untuk menentukan nuansa dan corak langit, tidak terdengar senandung protes karena semua mengerti saat ini adalah musim penghujan dan semua harus membiasakan diri kalau langit akan senantiasa tertutup mega. Terang atau gelap semua ada gilirannya, dan alam punya perhitungnnya sendiri yang terukur.